Tampilkan postingan dengan label Metode Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Riset. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

Tugas Pertemuan 6 : Metode Riset


Bab IV
Hasil & pembahasan
4.1 Deskripsi
                Dalam melakukan penelitian ini dikaji beberapa data dengan menggunakan sampel di Jawa dan Luar Jawa meliputi Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan dimulai pada awal tahun 2007. Keberhasilan LKM dapat dilihat dari beberapa indikator. Dari sisi kelembagaan, indikator keberhasilan ditunjukkan oleh perkembangan jumlah peserta dan perkembangan aset serta dana yang terserap. Di LKM yang dikelola YPKUM Bogor-Jawa Barat misalnya, dana yang sudah tersalurkan sejak tahun 1989 sampai bulan Maret 2007 mencapai Rp 12 Milyar dengan kecenderungan meningkat, jumlah tabungan anggota mencapai 2,6 Milyard. Non Perfomance Loan (NPL), yang menunjukkan rasio tunggakan terhadap jumlah pinjaman relatif kecil (1,9 %), jauh dibawah batas toleransi (5%). Kondisi ini menunjukkan bahwa kredit yang disalurkan cukup bermanfaat bagi masyarakat sebagai tambahan modal untuk usaha produktif. Buktinya, mereka mampu membayar angsuran kredit dengan lancar.

                Dari sisi Wilayah kerja, jumlah nasabah dan jumlah pinjaman juga terus meningkat. Pada awalnya, jumlah nasabah hanya 10 orang pada 1 desa dan 1 kecamatan. Menginjak bulan Maret 2007 jumlah nasabah meningkat pesat mencapai 5880 orang, tersebar di 12 kecamatan dan 83 desa. Ada sebanyak 1491 kumpulan (kelompok kecil) yang terdiri dari 5 orang) dan 394 rembug pusat (terdiri dari 2 - 6 kumpulan). Jumlah pinjaman per orangan pun mengalami peningkatan cukup tajam, pada awalnya besarnya pinjaman anggota hanya sebesar Rp 200.000, sekarang sudah ada yang boleh meminjam sebesar Rp 3 juta/th dengan bunga pinjaman 2,5 % per bulan atau 30% per tahun.Keberhasilan LKM di Tangerang teridentifikasi dari kemampuan LKM memberikan sumbangan terhadap PAD yang volumenya cenderung meningkat. Jika pada tahun 2006 menyetor PAD sebesar Rp 289 Juta, maka setoran untuk tahun 2007 telah ditargetkan akan mencapai Rp 600 juta. Modal awal LKM diperoleh dari Pemda Kabupaten Tangerang semenjak 2004, dan terus didukung Pemda sampai tahun 2007 sehingga total modal sampai tahun 2007 mencapai Rp 3,26 milyard.

                Dari aset tabungan dan cash money menunjukkan LPP-UMKM telah memiliki aset yang memadai. Tabungan yang dimiliki sampai tahun 2007 tercatat sebesar Rp 7,5 milyar dengan total piutang yang beredar di nasabah sebesar 5,7 milyar. Sedangkan cash money berupa aktiva lancar yang tersedia sebanyak Rp 1,3 milyar. Perputaran uang cukup besar, sebagai gambaran total penerimaan yang diterima LPP-UMKM per bulan sekitar Rp 230 juta. Setelah dikurangi biaya operasional, lembaga ini masih mendapatkan keuntungan Rp 100 juta per bulan.

                Dari sumberdaya manusia (SDM) yang terlibat, meskipun awalnya digerakkan oleh segelintir orang namun dalam perkembangannya mengalami peningkatan pesat. Sumberdaya manusia yang terlibat dalam kepengurusan LKM tercatat 53 orang karyawan (46 laki-laki dan 7 perempuan) dengan total wilayah layanan mencapai 7 kecamatan di Kabupaten Tangerang. Tingkat keberhasilan yang dicapai LKM tersebut, agak berbeda dengan LKM sejenis yang khusus melayani kegiatan usahatani seperti LKM Prima Tani di Jatim, Sulsel dan NTB. Pada LKM yang disebutkan terakhir, kendalanya dihadapkan pada dukungan permodalan dan keberlanjutan kegiatan LKM terkait dengan aspek kaderisasi dan kapabilitas pengurus LKM.

                Keberhasilan pengelolaan keuangan oleh UPPKP di Gunung Kidul dicirikan oleh semakin meningkatnya volume uang beredar di kelompok tani, dan semakin lancarnya tingkat pengembalian pinjaman. Kondisi tersebut jauih lebih baik dibandingkan dengan ketika pengelolaan keuangan kelompok ini masih dilakukan institusi penyalurnya (Dinas Teknis terkait dengan Pertanian). Sementara itu di Sleman, penyaluran pembiayaan usahatani yang dilakukan secara bergulir juga menunjukkan keberhasilan, ditandai dengan semakin meningkatnya kemampuan anggota kelompok dalam mengembalikan pinjaman sehingga volume pinjamannya juga lebih meningkat lagi. Kemampuan tersebut merupakancerminan efektifnya pinjaman dalam penggunaannya di sektor usahatani.

4.2 Analisis
           
            Dari pengalaman YPKUM Nanggung dan LPP UMKM Tangerang diketahui proporsi dana yang dialokasikan untuk mendukung kegiatan di sektor pertanian tidak lebih dari 5 % dari total pagu kredit LKM. Sebagian besar dana LKM disiapkan untuk mendukung usaha di luar sektor pertanian. Oleh karena itu tidak mengherankan jika akhirnya muncul wacana untuk membentuk dan mengembangkan LKM sendiri guna mendukung usaha di sektor pertanian.
Pada bab sebelumnya disebutkan bahwa jumlah UKM  berjumlah 42 jutaan ternyata  menikmati akses permodalan dari LKM hanya sebesar 22,14 persen. Jika jumlah UKM yang belum memanfaatkan kredit mikro sekitar 30 jutaan unit, misalnya satu persen-nya memanfaatkan kredit mikro rata-rata sebesar Rp 2 juta maka akan muncul potensi permintaan kredit mikro total sebesar 0,3 juta unit x Rp 2 juta = Rp 600 triliun. Jumlah ini tentu tidak semuanya dimanfaatkan oleh lembaga perbankan, tetapi akan lebih banyak melalui LKM. Selain jumlah pasar kredit mikro yang masih luas, potensi yang masih besar bagi LKM adalah karakterisitik dari LKM itu sendiri. LKM umumnya dalam penyaluran kreditnya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat



Bab V
Kesimpulan

5.1 Intisari

            Keberadaan LKM diakui masyarakat memiliki peran strategis sebagai intermediasi aktivitas perekonomian yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/bank konvensional; Secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari 10 % terhadap total plafon LKM; Faktor kritis dalam pengembangan LKM sektor pertanian terletak pada aspek legalitas kelembagaan, kapabilitas pengurus, dukungan seed capital, kelayakan ekonomi usaha tani, karakteristik usahatani dan bimbingan teknis nasabah/pengguna jasa layanan LKM;
1. Upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri, antara lain dengan memperluas akses Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dalam mendapatkan fasilitas permodalan yang tidak hanya bersumber dari lembaga keuangan formal tapi juga dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM),
2. LKM ternyata mampu memberikan berbagai jenis pembiayaan kepada UKM walaupun tidak sebesar lembaga keuangan formal, sehingga dapat menjadi alternatif pembiayaan yang cukup potensial mengingat sebagian besar pelaku UKM belum memanfaatkan lembaga-lembaga keuangan,
3. Potensi yang cukup besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karena LKM masih menghadapi berbagai kendala dan keterbatasan antara lain
Pemberdayaan aspek kelembagaan yang tumpang tindih, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan LKM dan kecukupan modal,
4. Upaya untuk menguatkan dan mengembangkan LKM sebagai salah satu pilar sistemkeuangan nasional, diantaranya yang mendesak adalah menuntaskan RUU tentang LKM agar terdapat kejelasan dalam pengembangan LKM. Serta komitmen pemerintah dalam memperkuat UKM sebagai bagian tidak terpisahkan dari pengembangan LKM



5.2 Saran & Rekomendasi
                Untuk memprakarsasi penumbuhan dan pengembangan LKM pertanian diperlukan adanya pembinaan peningkatan kapabilitas bagi SDM calon pengelola LKM, dukungan penguatan modal dan pendampingan teknis kepada nasabah penggunakredit. Sedangkan saran yang relevan dengan pengembangan LKM mencakup:
1. Perlunya strategi jangka panjang yang jelas dalam pengembangan LKM baik cetak biru maupun kelembagaannya sebagaimana strategi yang telah berjalan pada industri perbankan, mengingat kontribusi LKM yang cukup besar dalam pengembangan UKM
2. Perlunya pendalaman dan pengkajian yang lebih intensif tentang karakteristik LKM di Indonesia, agar RUU tentang LKM yang dihasilkan nanti akan menjadikan LKM semakin berkembang dan tangguh bukan sebaliknya




Alit Inanti
3ea11
16209004
Dosen : Prihantoro

Minggu, 30 Oktober 2011

Tugas Pertemuan 5 : Metode Riset


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 DATA
Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bank Indonesia, Pegadaian, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) serta sumber lainnya yang terkait. Pengumpulan data primer dari Pengurus LKM terpilih dan nasabah LKM sebagai responden dilakukan melalui diskusi kelompok dan wawancara individual (survey) menggunakan pedoman pertanyaan dan kuesioner.
            Jenis data primer yang dikumpulkan dari pengurus lebih difokuskan pada kondisi organisasi dan manajemen (O & M), skim kredit, faktor-faktor pendukung, kendala dan peluang pengembangan LKM. Sementara itu dari nasabah, data yang dikumpulkan meliputi: karakteristik ekonomi rumah tangga dan permasalahan pembiayaan usahatani. Selain data primer dikumpulkan juga data sekunder melalui penelusuran informasi berbagai dokumen laporan kegiatan/program dan kebijakan pengembangan kelembagaan keuangan mikro, geografi, sosial ekonomi, dan review skim kredit Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

·         Primer
Tabel 1
Potensi dan Permasalahan yang Dihadapi Lembaga Keuangan Mikro

Aspek
BPR & BRI Unit
Koperasi
Lembaga Keuangan Mikro Lainnya
Kemampuan menghimpun dana
Mengandalkan tingkat suku bunga > rata-rata bank umum
Mengandalkan jumlah anggota
Mengandalkan modal sendiri dan anggota
Kemampuan menyalurkan dana
Rasio Loan to Deposit (LDR), namun kualitasnya perlu diperhatikan
Terbatas karena kemampuan SDM dan pengalaman usaha
Terbatas karena kemampuan SDM dan pengalaman usaha
Kemampuan manajemen operasional
Tergantung pada beberapa SDM kunci
Tergantung pada pengurus
Tergantung pada pengurus
Kemampuan menghasilkan laba
Relatif lebih baik dibandingkan bank umum (ROE dan ROA)
Tergantung dari kemampuan dan komitmen anggota
Tergantung dari kemampuan dan komitmen anggota
Kemampuan jaringan dan akses pasar
Fokus pada usaha perdagangan
Masih terbatas
Masih terbatas
Kemampuan perencanaan dan pelaporan
Masih beragam, khususnya BPR yang mempunyai modal terbatas dan yang beroperasi di luar Jawa dan Bali
Masih kurang
Masih kurang

Sumber: Didin Wahyudin, Key Succes Factors In MicroFinancing, paper pada Diskusi Panel Microfinance Revolution: “Future Perspective for Indonesian Market”, Jakarta, 7 Desember 2004 dalam wijono 2005



·         Sekunder
Jumlah permintaan kredit mikro yang relatif besar, tentu tidak semuanya dimanfaatkan oleh lembaga perbankan, tetapi akan lebih banyak melalui LKM. Selain jumlah pasar kredit mikro yang masih luas, potensi yang masih besar bagi LKM adalah karakterisitik dari LKM itu sendiri. LKM umumnya dalam penyaluran kreditnya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.
Jika contoh diatas dijalankan, maka akan membawa effect multiplier yang luar biasa karena akan dapat menggerakkan roda perekonomian. Bergulirnya aktivitas UKM akan meningkatkan proses produksi, menyerap tenaga kerja, dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan kalangan pelaku UKM. Dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat miskin dan akan ikut berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan perekonomian nasional  (PEMBERDAYAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SEBAGAI SALAH SATU PILAR SISTEM KEUANGAN NASIONAL: UPAYA KONKRIT MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN Wiloejo Wirjo wijono, 2005)

3.2 Eksplorasi Data
            Sampel
            Sampel yang digunakan dalam tulisan ini adalah beberapa LKM dan nasabah LKM terpilih yang tersebar di berbagai daerah.
                       
            Populasi

            Adapun populasi yang digunakan dalam tulisan ini adalah dari pengkajian LKM di Jawa dan Luar Jawa meliputi Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan pada awal tahun 2007 dan juga bersumber dari BPS periode tahun 2000-2008.

3.3 Variabel dan Indikator
           
Dalam perkembangannya, lembaga Keuangan Mikro (sebagai Variabel terikat (X) lebih mengena di kalangan pelaku UKM karena sifatnya yang lebih fleksibel, misalnya dalam hal persyaratan dan jumlah pinjaman yang tidak seketat persyaratan perbankan maupun keluwesan pada pencairan kredit. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa keberadaan lembaga-lembaga keuangan informal sesuai dengan kebutuhan pelaku UKM, yang umumnya membutuhkan pembiayaan sesuai skala dan sifat usaha kecil. Yang akan berpengaruh terhadap pembangunan nasional (Variabel terikat (Y)).
                       


3.4 Model Penelitian              

PN           : Pembangunan Nasional
LKMP     : Lembaga Keuangan Mikro di Pedesaan
LKMPK  : Lembaga Keuangan Mikro dlm Pengentasan Kemiskinan
LKMPR   : Lembaga Keuangan Mikro dlm Pembiayaan Rumah
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
PN = a + LKMP + LKMPK + LKMPR 


ALIT INANTI
16209004
3EA11
ditugaskan oleh : Bpk Prihantoro 

Jumat, 21 Oktober 2011

Tugas Pertemuan 4 : Metode Riset


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori dasar/konsep
             
Lembaga keuangan yang terlibat dalam penyaluran kredit mikro umumnya disebut Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Menurut Asian Development Bank (ADB), lembaga keuangan mikro (microfinance) adalah lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan (deposits), kredit (loans), pembayaran berbagai transaksi jasa (payment services) serta money transfers yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil (insurance to poor and low-income households and their microenterprises). Sedangkan bentuk LKM dapat berupa: (1) lembaga formal misalnya bank desa dan koperasi, (2) lembaga semiformal misalnya organisasi non pemerintah, dan (3) sumber-sumber informal misalnya pelepas uang (www.ADB.co.id, wijono 2005).

            LKM menjadi alat yang cukup penting untuk mewujudkan pembangunan dalam tiga hal sekaligus, yaitu: menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengentaskan kemiskinan (Anonim, 2007). Menurut Martowijoyo (2002) dan Syukur (2006) gaung peranan kredit mikro untuk penciptaan lapangan kerja mandiri guna mengurangi kemiskinan ini mulai berkembang luas di dunia sejak ikrar Microcredit Summit di
Washington DC, 1997 (Rachmat Hendayana dan Sjahrul Bustaman,2007).




2.2 Tinjauan Riset terdahulu
            Wiloejo wijo wirjono (2005) dalam penelitian yang berjudul “Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya Konkrit Memutus Mata Rantai Kemiskinan” bertujuan menganalisis peranan LKM sebagai sumber pembiayaan UKM serta potensi dan permasalahannya yang dapat dijadikan  sebagai salah satu pilar dasar pengembangan keuangan nasional. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (deskriptif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri, antara lain dengan memperluas akses Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dalam mendapatkan fasilitas permodalan yang tidak hanya bersumber dari lembaga keuangan formal tapi juga dari Lembaga Keuangan Mikro .
           
            Penelitian lain adalah Rachmat Hendayana dan Sjahrul Bustaman  (2007) dengan judul “Fenomena Lembaga Keuangan Mikro dalam Perspektif pembangunan ekonomi pedesaan”. Penelitian ini bertujuan membahas fenomena LKM dan perspektifnya dalam pembangunan ekonomi pedesaan dengan fokus pada pertanian serta membahas faktor – faktor keberhasilan LKM dan meyusun strategi pengembangannya dalam mendukung kegiatan usaha tani.Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif . kesimpulan penelitian menunjukan bahwa secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari 10 % terhadap total plafon LKM;

2.3 Pengembangan Hipotesis
            Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang bertujuan mengarahkan dan memberikan pedoman dalam pokok permasalahan serta tujuan penelitian. Maka dari masalah yang ada, dapat dikemukakan suatu hipotesis penelitian sebagai berikut:
“Keberadaan/Peran LKM berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan keuangan nasional”.

sumber:


Minggu, 09 Oktober 2011

Tugas Pertemuan 3 : metode riset



Jurnal Ilmiah
Tema : Lembaga Keuangan Mikro

Keberhasilan Peran Lembaga Keuangan Mikro dalam Pembangunan Nasional dilihat dari Berbagai Aspek           

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
                   Lembaga Keuangan Mikro adalah lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan (deposit), kredit (loan), pembayaran berbagai transaksi jasa (payment services) , serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. Dengan demikian LKM  memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan jasa keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta pengusaha kecil. Atau dengan kata lain LKM adalah lembaga yang umumnya disebut terlibat dalam penyaluran kredit mikro. (ashari,2006). Kredit mikro adalah program pemberian kredit berjumlah kecil kepada warga miskin untuk membiayai program produktif yang ia kerjakan agar menghasilkan pendapatan yang memungkinkan mereka peduli terhadap diri sendiri maupun keluarganya (Microcredit Summit,1997 ;Wijono,2005; Ashari 2006)
Fenomena
                    LKM bukan hanya khusus menjadi lembaga yang menyediakan jasa keuangan jangka pendek. Pembicaraan Kredit Mikro kedalam pembiayaan perumahan mengawali babak baru pemikiran untuk mencoba lembaga keuangan mikro dibawa pada arus pembiayaan jangka menengah panjang yang berbeda dengan tradisi LKM yang hidup dari pembiayaan jangka pendek (Noer Soetrisno,2008)
                   Peranan LKM dalam pembangunan nasional dirasakan belum mencapai hasil yang optimal. Oleh sebab itu LKM terus berusaha meningkatkan peranannya seperti dalam perspektif pembangunan ekonomi pedesaan, mendukung pembangunan perumahan, serta upaya mengentaskan mata rantai kemiskinan.

Riset Terdahulu
            Rachmat Hendayana dan Sjahrul Bustaman ,2007 membahas fenomena LKM dan perspektifnya dalam pembangunan ekonomi pedesaan dengan fokus pada adopsi inovasi pertanian, serta mengungkap faktor-faktor kritis keberhasilan LKM dan menyusun strategi pengembangan LKM ke depan untuk mendukung kegiatan usahatani. Noer Soetrisno,2008 membawa LKM pada pembiayaan perumahan atau mengajak LKM menciptakan produk jasa keuangan yang bernama pembiayaan perumahan. Wiloejo Wiro Wirjono,2005 Menganalisis peranan LKM sebagai sumber pembiayaan UKM dan Menganalisis potensi dan permasalahan LKM yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan di masa depan, yang memungkinkan menjadi salah satu pilar sistem keuangan nasional.


Motivasi Penelitian
           
            Berdasarkan Implikasi hasil penelitian diatas memperlihatkan berbagai dorongan terhadap wujud eksistensi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dalam mencapai pembangunan perekonomian nasional semakin menunjukkan perannya dan keberhasilan LKM yang lebih mencapai hasil yang maksimal menjadikan  ini pelu untuk diteliti.


I.2 Perumusan Masalah

            Berdasarkan kondisi tersebut diatas LKM telah banyak melakukan peranannya dalam berbagai bidang seperti di pedesaan (usaha pertanian), pengentasan kemiskinan dan usaha mewujudkan pembiayaan perumahan. Bagaimana pengaruh faktor faktor yang menentukan keberhasilan LKM tersebut dan apakah LKM akan terus berkembang dan mampu memenuhi peranannya

Tujuan

     1. Menganalisis peran keberadaan LKM dilingkungan masyarakat
     2. Menganalisis Keberhasilan LKM dilihat dari berbagai aspek
     3. Menganalisis Faktor Faktor yang menentukan keberhasilan LKM pada berbagai aspek                      tersebut

Sumber:




ALIT  INANTI
16209004
3EA11

 ditugaskan oleh bpk Prihantoro

Senin, 03 Oktober 2011

Tugas Pertemuan 2 : metode riset


·         Judul, nama pengarang, tahun
1. Fenomena Lembaga Keuangan Mikro dalam perspektif pembangunan ekonomi pedesaan, Rachmat Hendayana, Sjahrul Bustaman,2007
2. Peran Strategis lembaga keuangan mikro dalam mendukung pembangunan perumahan, Noer Soetrisno,2008
3. Pemberdayaan lembaga keuangan mikro sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional: Upaya konkrit memutus mata rantai kemiskinan, Wiloejo Wirjo Wijono,2005

·         A) Fenomena
1. LKM pertanian akan menjadi salah satu solusi dan berperan sebagai intermediasi dalam aktifitas perekonomian bagi masyarakat tani yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/ bank konvensional.
2. LKM akan menciptakan produk jasa keuangan pembiayaan perumahan
3. LKM dalam menunjang kegiatan UKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional

B) Penelitian sebelumnya
                1. Walaupun di lingkungan masyarakat telah banyak tumbuh & berkembang       lembaga keuangan yang terlibat di dalam pembiayaan usaha mikro dengan beragam         seperti bank umum/bank Pekreditan Rakyat (BPR),modal ventura, program pengembangan usaha kecil dan koperasi (PUKK), pegadaian dan sebagainya.namun                  antara permintaan & penawaran layanan keuangan mikro masih tetap ada
                .(retnadi,2003)
                2.penelitian BPS pd tahun 2004
                3. Jika Pengusaha pemula ini tumbuh dan berkembang akan terentaskan karena              menjadi pengusaha /trickle down effect dari semakin banyaknya pengusaha mikro (krisnawijaya;2005)

C. motivasi penelitian
1. membantu petani dalam memperoleh modal dalam usahanya dengan pengembangan LKM kepedesaan.
2. tersedianya pembiayaan untuk membeli rumah dengan jangka waktu sesuai kemampuan ekonomi konsumen

3.keberadaan LKM dpt membantu pemerintah dlm mengentaskan kemiskinan

·         Masalah:

1. Kelemahan petani pada adopsi inovasi
teknologi yang relatif rendah sebagai dampak penguasaan modal usahatani yang lemah. petani sering tidak memiliki akses terhadap lembaga perbankan konvensional, ia akan memilih untuk berhubungan dengan lembaga jasa keuangan informal seperti rentenir

2. Pada saat ini diperkirakan sekitar 13 juta penduduk belum menghuni rumah yang layak,peningkatan kualitas perumahannya menjadi persoalan dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat.

3. Upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih menitikberatkan bentuk-bentuk transfer atau subsidi

·         Tujuan Penelitian
                1. mengungkap faktor-faktor kritis keberhasilan LKM dan menyusun strategi                      pengembangan LKM ke depan untuk mendukung kegiatan usahatani
            2. meningkatnya perumahan yang layak dengan pembiayaan perumahan yang                     diciptakan LKM
            3. peranan LKM sebagai sumber pembiayaan UKM,  potensi dan     permasalahan LKM  dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan di masa          , yang memungkinkan menjadi salah satu pilar sistem keuangan nasional


·         Metode Penelitian
Data dan Sample
                1. Pengumpulan data primer dari Pengurus LKM
            terpilih dan nasabah LKM sebagai responden dilakukan melalui diskusi kelompok dan
wawancara individual (survey) menggunakan pedoman pertanyaan dan kuesioner.
            dari sebagian hasil pengkajian LKM di Jawa dan Luar Jawa meliputi Jawa Barat,   Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat danSulawesi Selatan pada           awal tahun 2007.
           
            2.Data primer dari (BPS, 2004)

            3.Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bank Indonesia, Pegadaian, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) serta sumber lainnya yang terkait. Sementara alat analisis yang dipakai adalah bersifat deskriptif. Studi kepustakaan, baik yang berasal dari buku teks maupun jurnal/majalah merupakan sumber yang sangat penting, begitu pula diskusi dengan teman seprofesi guna mempertajam analisisnya.

·         Variable
1 Variabel pada jurnal pertama pada Wilayah kerja, jumlah nasabah dan jumlah pinjaman juga terus meningkat. Pada awalnya, jumlah nasabah hanya 10 orang pada 1 desa dan 1 kecamatan. Menginjak bulan Maret 2007 jumlah nasabah meningkat pesat mencapai 5880 orang, tersebar di 12 kecamatan dan 83 desa. Ada sebanyak 1491 kumpulan (kelompok kecil) yang terdiri dari 5orang) dan 394 rembug pusat (terdiri dari 2 - 6 kumpulan). Jumlah pinjaman per orangan pun mengalami peningkatan cukup tajam, pada awalnya besarnya pinjaman anggota hanya sebesar Rp 200.000, sekarang sudah ada yang boleh meminjam sebesar Rp 3 juta/th dengan bunga pinjaman 2,5 % per bulan atau 30% per tahun.

2 pada jurnal kedua, besaran subsidi dibagi menjadi 3 kelompok sasaran Besaran subsidi:
_ Kelompok Sasaran I ( Rp 1,4 jt < Pendapatan < Rp 2,0 jt) yang semula
sebesar Rp 2 juta ditingkatkan menjadi Rp 5 Juta
_ Kelompok Sasaran II ( Rp 0,8 jt < Pendapatan < Rp 1,4 jt) yang semula
sebesar Rp 3 juta ditingkatkan menjadi Rp 7 Juta
_ Kelompok Sasaran III ( Pendapatan < Rp 0,8 jt) yang semula sebesar Rp 5
juta ditingkatkan menjadi Rp 9 Juta

3.pada jurnal ketiga




·         Tahapan penelitian

1. pada jurnal pertama, a) Menetapkan terlebih dahulu LKM menjadi 3 kategori yaitu LKM Bank, LKM Koperasi dan LKM bukan Bank bukan Koperasi., b)mengidentifikasi sistem kelembagaan, pekreditan,pelayanan,wilayah kerja, c)keberhasilan

2. pada jurnal kedua a) alasan LKM pembiayaan rumah di butuhkan b)menyusun Agenda pokok untuk mewujudkan percepatan pembangunan peruasil dmahan

3.pada jurnal ketiga a) Melakukan Pendekatan yang berbeda-beda untuk ketiga kelompok masyarakat  agar sasaran pengentasan kemiskinan tercapai.
b) Menganalisis keberadaan LKM  dan perkembangannya diIndonesia


·         Model Penelitian
1. pada jurnal pertama  menggunakan Model Grameen Bank diilhami keberhasilan Muhammad Yunus dalam mengembangkan LKM di Banglades

2. pada jurnal kedua  Secara kuantitatif sasaran Pembangunan Perumahan dalam masa 2005-2009 dibagi menjadi beberapa agenda.


3. pada jurnal ketiga  



·         Hipotesis
1.      Di lingkungan masyarakat, telah banyak LKM yang menyediakan skim kredit
dengan pola yang beragam, namun umumnya bergerak dalam fasilitasi pembiayaan bagi usaha-usaha ekonomi non pertanian. Oleh karena itu muncul persoalan: (a) sejauhmanakah keberadaan LKM di lingkungan masyarakat pedesaan mampu menjalankan perannya dalam fasilitasi pembiayaan usahatani? (b) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan LKM tersebut dan (c) Bagaimanakah strategi pengembangan LKM ke depan yang efektif untuk mendukung usahatani?
2. Pencapaian tahun 2005 pada umumnya masih di bawah sasaran RPJM sehingga diperlukan langkah khusus untuk mengejar ketertinggalan.Tahun 2006 merupakan Tahun Percepatan Pembangunan Penyediaan Perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rerndah (MBR) melalu beberapa kegiatan.
     
3.
        Potensi yang cukup besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karena LKM masih menghadapi berbagai kendala dan keterbatasan antara lain aspek kelembagaan yang tumpang tindih, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan LKM dan kecukupan modal
·         Hasil & Analisis
1.       Jurnal pertama Secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari 10 % terhadap total plafon LKM;

2.       Keberhasilan perkreditan/pembiayaan mikro bukan semata karena alasan
efisiensi, tetapi yang terpenting adalah kecepatan komunikasi antara nasabah
dan LKM.

3.       jumlah UMKM yang berjumlah 42 jutaan ternyata yang menikmati akses permodalan dari lembaga-lembaga keuangan baik perbankan maupun LKM hanya sebesar 22,14 persen.



·         Implikasi
1. pada jurnal pertama Untuk memprakarsasi penumbuhan dan pengembangan LKM pertanian diperlukan adanya pembinaan peningkatan kapabilitas bagi SDM calon pengelola LKM, dukungan penguatan modal dan pendampingan teknis kepada nasabah pengguna kredit.

2.pada jurnal kedua agar dukungan pembiayaan untuk modal kerja bagi LKM yang masuk dalam pembiayaan perumahan harus menjadi perhatian semua instansi Pemerintah yang mengembangkan Program
Perkuatan LKM.

3. pada jurnal ketiga
untuk memperbesar perannya dalam pembiayaan UKM yang ditunjukkan dengan masih banyak jumlah UKM yang belum memanfaatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan serta masih sulitnya akses pembiayaan dari lembaga perbankan. 


nama : Alit Inanti
NPM:  16209004
KELAS: 3EA11

tugas ini diberikan oleh Pak Prihantoro